Kasus Bully di Indonesia terjadi lagi, Makin Parah kah ?  Pasal apa yang dapat menjerat pelaku Bully dibawah umur ? ( Pendapat )

Kasus Bully di Indonesia terjadi lagi, Makin Parah kah ? Pasal apa yang dapat menjerat pelaku Bully dibawah umur ? ( Pendapat )


Baru saja tadi saat saya berselancar di Facebook  dan ada salah satu berita yang menarik perhatian saya untuk dibahas. 



Berbicara mengenai Pe-run.dung-an  ( Kata dasar run.dung ) atau lebih dikenal dengan istilah  "Bullying".  Khusus nya di bagian pendidikan, kalangan Remaja dan atau Pelajar di Indonesia seperti nya bukan menjadi hal yang tabu lagi bagi Masyarakat kita. Karena menurut KPAI, seperti yang saya kutip di salah satu berita Voa Indonesia yang berjudul "KPAI: Kasus Kekerasan Anak dalam Pendidikan Meningkat Tahun 2018 "Bahwa Dalam konferensi pers di kantor KPAI Jakarta, Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti menyoroti kasus cyberbully di kalangan siswa yang meningkat signifikan. Ia menyebutkan hingga per Tanggal 21 Desember, total ada 206 kasus, dan terus dari Tahun 2015.

Pada Tahun 2019 ini, Terjadi lagi satu kasus baru yang sangat menghebohkan Masyarakat indonesia di Dunia Maya, Yaitu tentang Perundungan Audrey (AU) berumur 14 tahun yang di lakukan oleh 12 siswi yang berasal dari berbagai SMA di Kota Pontianak. Menurut beberapa sumber di Internet yang saya baca, berdasarkan hasil yang didapatkan KPPAD, dan Reskrim Polresta Pontianak, target pelaku sebenarnya bukanlah korban yang saat ini. Tapi kakak sepupu korban.

"Permasalahan awal karena masalah cowok, menurut info kakak sepupu korban merupakan mantan pacar dari pelaku penganiayaan ini. Di media sosial mereka saling komentar sehingga pelaku menjemput korban karena kesal terhadap komentar itu untuk memancing agar kaka nya keluar.

Korban sebenarnya berada di rumah, kemudian Korban dijemput dengan alasan ada yang mau disampaikan dan diomongkan. Jadi dengan seperti itu, korban bersedia ikut bersama pelaku dan dibawa ke Jalan Sulawesi. korban dijemput oleh DE untuk diantar ke rumah sepupunya PP. Sesampai di rumah PP, korban lalu dibonceng PP menggunakan sepeda motor, sementara DE menunjukkan ke arah mana korban dibawa. Keduanya yakni AU dan PP, diikuti oleh dua sepeda motor yang tidak dikenal korban.

Saat berada di Jalan Sulawesi, korban dicegat dan kemudian tiba-tiba dari belakang, terlapor TR menyiramkan air dan menarik rambut korban hingga korban jatuh ke jalan. Setelah korban terjatuh, terlapor EC menginjak perut korban dan membenturkan kepala korban di jalan. Setelah kejadian tersebut, korban melarikan diri bersama sepupunya PP menggunakan motor dan dicegat kembali oleh TR dan LL di Taman Akcaya.

Di taman tersebut, korban dipiting oleh TR. Sementara LL menendang perut korban. Namun karena saat kejadian dilihat masyarakat sekitar, para pelaku melarikan diri. Husni mengatakan, kejadian ini pertama kali diadukan oleh korban dan orang tuanya di Polsek Selatan seminggu setelah kejadian."

Akibat dari Perundungan Tersebut, Korban AU (14)  pun mengalami perawatan intensif di Rumah Sakit Mitra Medika, Pontianak. Salah satu Pengguna twitter @syarifahmelinda bahkan menjelaskan kronologi secara detail bentuk penganiayaan yang dilakukan oleh 12 siswi SMA tersebut dan menjadi trending pertama di twitter dengan menggunakan tagar #JusticeForAudrey .

Sekarang pasal apa yang kira kira dapat menjerat para pelaku tersebut?

Sebelum mengetahui pasal apa yang dapat di gunakan untuk menjerat para pelaku, alangkah baik nya kita menjelaskan fakta-fakta yang didapat dari kronologi diatas.

Pertama, Jika kita berbicara mengenai Perundungan ( Bullying ), dalam Hukum Di Indonesia belum ada pasal yang membahas jelas tentang Perundungan secara menyeluruh . Tapi jika kita lihat dalam praktek Penyelesaian kasus Perundungan yang ada di Indonesia, Sering digunakan nya "Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014" tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

Pada pasal 54 jo pasal 9 ayat (1a) dituliskan bahwa :

pasal 54 :
“Anak di dalam dan di lingkungan satuan pendidikan wajib mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual, dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain.”
Pasal 9 ayat (1a) :
“setiap anak berhak mendapatkan perlindungan di satuan Pendidikan dari kejahatan seksual dan kekerasan yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lainnya”

Jika kita tarik kesimpulan dari dua pasal diatas, maka dapat disimpulkan bahwa anak dibawah umur juga dapat disebut pelaku tindak pidana apabila melakukan suatu kekerasan dimana kekerasan yang dimaksud disini termasuk kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual dan atau kejahatan lain nya yang dapat menimbulkan kerugian bagi orang lain.

Dan jika kita tarik penjelasan tersebut menuju kepada Kronologi Kasus yang di alami oleh Korban Audrey (AU) diatas, Ke 12 Pelaku tersebut sudah lah memenuhi kriteria yang sesuai dengan pasal 54 jo pasal 9 ayat (1a) Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014.

Kedua, Merujuk pada Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA), Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA) memberikan pendekatan yang menjauhkan anak dari penjara. Jadi dalam hal Tindak Pidana anak, Pengadilan terlebih dahulu mengambil langkah pendekatan Restorative Justice dengan bentuk mediasi dan diversi  . Tetapi pendekatan ini tak menjamin Pelaku anak bebas dari pidana penjara, Karena mediasi dan diversi harus juga mendapat persetujuan dari korban, apabila korban tidak mau atau tidak menerima pendekatan Restorative Justice yang diajukan,  maka perkara bisa dinaikan di Pengadilan.

Ketiga, apabila pendekatan Restorative Justice gagal, perkara bisa dilanjutkan dengan Peradilan Pidana ( Criminal Justice ) . Dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA), menyebutkan:

“Sistem Peradilan Pidana Anak adalah keseluruhan proses penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum, mulai tahap penyelidikan sampai dengan tahap pembimbingan setelah menjalani pidana”

Jika mempermasalahkan umur dari ke 12 Pelaku tersebut yang katanya dibawah umur ( testimonium de auditum dari postingan fb ),  Untuk mengajukan seorang anak ke depan sidang pengadilan, terdapat batasan umur layak tidaknya anak tersebut diajukan di depan persidangan.

Dalam Undang-Undang No 3 tahun 1997 Pasal 1 butir 1 yang sejalan dengan
rumusan Pasal 4 ayat (1) menjelaskan :

Pasal 1 butir 1 yaitu :
Anak adalah orang yang dalam perkara anak nakal telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin.
Pasal 4 ayat (1) yaitu : Batas umur anak nakal yang dapat diajukan
ke sidang anak adalah sekurang-kurangnya 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin

Jika ditarik kesimpulan Dari kedua pasal tersebut, dapat dilihat bahwa yang disebut sebagai anak yang dapat diperkarakan atau dibawah ke sidang anak hanyalah anak yang berumur antara 8 tahun sampai 18 tahun dan belum pernah kawin. ( untuk lebih lengkap nya liat di penjelasan pasal diatas )

Dan jika kita tarik penjelasan tersebut menuju kepada Kronologi Kasus yang di alami oleh Korban Audrey (AU) diatas, Ke 12 Pelaku utama tersebut sudah lah memenuhi kriteria yang sesuai dengan UU No 3 tahun 1997 Pasal 1 butir 1 yang sejalan dengan rumusan Pasal 4 ayat (1) .

keempat, di sisi lain UU Perlindungan Anak juga memiliki aspek perdata yaitu diberikannya hak kepada anak korban Perundungan (bullying) untuk menuntut ganti rugi materil/immateril terhadap pelaku kekerasan.

Hal ini diatur dalam Pasal 71D ayat (1) Jo Pasal 59 ayat (2) huruf i Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 sebagai berikut:

Pasal 71D ayat (1) UU No 35 tahun 2014:
Setiap Anak yang menjadi korban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (2) huruf b, huruf d, huruf f, huruf h, huruf i, dan huruf j berhak mengajukan ke pengadilan berupa hak atas restitusi yang menjadi tanggung jawab pelaku kejahatan.
Pasal 59 ayat (2) huruf i UU No 35 tahun 2014:
Perlindungan Khusus kepada Anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada:
i. Anak korban kekerasan fisik dan/atau psikis;..

Dalam UU No. 11 Tahun 2012 :


Pasal 71 ayat 1

Dimana Jenis pidana pokok yang dapat dijatuhkan terhadap anak nakal adalah: pidana peringatan, pidana dengan syarat (pembinaan di luar lembaga, pelayanan masyarakat atau pengawasan), pelatihan kerja, pembinaan dalam lembaga dan penjara.

Pasal 81 ayat 2
Pidana penjara anak nakal maksimum ½ dari ancaman maksimum pidana penjara orang dewasa.

Pasal 26 ayat 2
Jika anak nakal diancam pidana mati atau seumur hidup, sehingga pidana maksimumnya 10 (sepuluh) tahun

Pasal 26 ayat 3
Jika anak diancam pidana mati atau seumur hidup, tetapi ia belum berusia 12 (dua belas) tahun, ia dapat diserahkan kepada negara untuk dididik, dibina, dan diberi pelatihan kerja

Pasal 27 ayat 2
Pidana kurungan dan denda terhadap anak nakal, dapat dijatuhkan ½ (setengah) dari pidana orang dewasa.
Kesimpulan :


Jika dilihat dari kronologi kasus diatas, Dari perbuatan para pelaku, dapat dibagi dan disimpulkan bahwa:

1. Pelaku yang melakukan kekerasan dapat dikenakan pasal 353 ayat (2) subsider pasal351 ayat (2) yang menmperhatikan UU No 11 tahun 2012 Pasal 81 ayat 2

2. Pelaku yang ikut serta dapat dikenakan pasal 353 ayat (2) subsider pasal351 ayat (2) jo pasal 55 dan 56 kuhp yang menmperhatikan UU No 11 tahun 2012 Pasal 81 ayat 2

Berdasarkan Pasal 71D ayat (1) Jo Pasal 59 ayat (2) huruf i Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 Korban AU juga berhak untuk menuntut ganti rugi materil/immateril terhadap pelaku.

Demikian lah pendapat saya mengenai pasal apa yang kira kira dapat menjerat para pelaku perundungan Audrey (AU) apabila Pihak Korban menolak Mediasi dan Diversi yang ditawarkan . Apa yang saya tulis diatas hanya Pendapat pribadi, Soal apakah perkara perundungan oleh korban (AU) ini ditindaklanjuti atau tidak, atau menempuh jalan mediasi ataupun pidana, menurut hemat saya, hal ini sudah menjadi kewajiban Aparat Penegak Hukum yang berwenang untuk menelusuri dan menuntaskan Kasus ini sesuai dengan penyelesaian yang seadil-adilnya, Agar tidak terjadi Korban seperti (AU) dimasa mendatang . Saya sangat berharap semoga Audrey (AU) dapat segera pulih dari Luka maupun Trauma nya, amin.